Thursday, March 30, 2017

Preview Novel

Bagi yang penasaran dengan isi novel I Find It in Your Eyes, Silent Melody, dan Beyond the Wall, saya membocorkan bab 1 dari tiap novel tersebut di Wattpad. Kebetulan saya baru buka account Wattpad saya itu yang sudah lama berjamur.

Berikut link-nya: https://www.wattpad.com/user/sabrinazee


Friday, February 3, 2017

Achlodia Trivia: Edelstein National School

Lake Forest College, Chicago


Jadi, saya menemukan foto ini di internet. Bangunan ini bernama Lake Forest College yang terletak dekat Danau Michigan di Chicago. Kerennya, sekolah ini terletak di dekat laut. Asyik sangat.

Nah, entah kenapa foto ini mengingatkan saya pada Edelstein National School di buku Beyond the Wall. Beneran hampir mirip dengan bayangan saya, hehe...

"Dibangun tahun 1887, Edelstein National School merupakan salah satu sekolah tertua di negara itu. Bangunan megahnya terbuat dari batu bata sehingga membuat sekolah itu tampak seperti raksasa berwarna oranye dari kejauhan. Atapnya dibuat tinggi dan lebar menyaingi atap bertanda salib milik gereja yang terletak di sebelahnya."  -Beyond the Wall hlm. 28

Edelstein National School adalah tempat Anna, Mark, Lucy, Maya, Indra, dan Cherry bersekolah. Dean juga pernah bersekolah di sini. Dan saya juga berharap belajar di sekolah itu, karena sekolah saya dulu bangunannya nggak bagus. Eaaaa...

Sunday, May 8, 2016

Beyond the Wall

Sepertinya blog ini baru saya update kalau ada buku baru saya yang diterbitkan. Maafkan saya, blog...

Jadi, buku baru saya yang terbit kali ini bertema fantasi. Aneh kan? Kok saya bisa nyasar nulis fantasi? Sebenarnya sih karena beberapa tahun belakangan ini saya kebanyakan baca buku fantasi. Akhirnya kepincut juga pengen nulis cerita fantasi.


The Wall sudah menyegel lahan Negara Maronca sejak ratusan tahun yang lalu. Anna sudah terbiasa melihat dinding sihir itu dari sebelah rumahnya. Sampai suatu hari... ia dengan tanpa sengaja memasuki dunia di balik The Wall, dunia berbeda yang penuh sihir.

Di sisi lain, kerajaan kuno yang memerintah kehidupan di dalam The Wall sedang menghadapi krisis. Mereka yang ingin merebut kekuasaan mulai menunjukkan kelicikan dan kepandaian masing-masing. Karena putra mahkota kerajaan tidak bisa diandalkan, Putri Iris terpaksa maju sebagai penyusun rencana. Tapi ia punya agenda sendiri dalam politik pemerintahan dan ia membutuhkan seorang mata-mata rahasia yang dikabarkan tinggal di tempat tersembunyi.

Lalu seorang pengembara datang dari negeri terjauh. Dia mengaku bernama Rev. Anehnya, dia langsung setuju membantu membebaskan tahanan kerajaan, sekalipun itu berarti ia melanggar hukum.

Saat perang muncul ke permukaan, tidak ada seorang pun yang siap menghadapinya.

Cover-nya melambangkan The Wall yang ada di buku ini The Wall sendiri merupakan batas penjara sihir yang tidak bisa dimasuki. Boleh dibilang cover-nya cukup mewakili cerita utamanya. Warnanya juga tipe saya banget. Hijau kelam gitu.

Seperti kebiasaan saya selama ini, saya selalu menulis cerita yang tokohnya banyak. Jujur, saya juga tidak menyangka ceritanya bakal jadi panjang dan rumit. Sebenarnya buku ini bakal ada lanjutannya, tapi tidak tahu bisa diterbitkan atau tidak. Haha...

Ayo, dibaca! Semoga isinya bisa menghibur dan bikin penasaran. :D

TRIVIA

1.   Seri buku ini bernama Achlodia, diambil dari nama bunga dalam cerita ini.
2.   Ide ceritanya muncul saat saya sedang menonton Elizabeth: The Golden Age.
3.   Saya menulis buku ini tanpa kerangka cerita, hanya mengalir apa adanya tanpa rencana. Saya baru mulai menyusun idenya secara rinci setelah selesai menulis setengahnya.
4.   Salah satu tokoh utama yang meninggal di buku ini ditambahkan setelah seluruh ide buku pertama ini selesai. Alasannya karena saya merasa ceritanya kurang sedih. Jadi, tokoh itu memang diciptakan hanya untuk mati dan saya menangis sewaktu menulis adegan kematiannya. Tidak tega dan saya mulai suka dengan tokoh itu. #memangsayakejam
5.   Negara Maronca memiliki unsur gabungan dari negara-negara yang pernah saya tinggali: Indonesia, Singapura, dan Australia. Masyarakatnya berbicara bahasa Indonesia sekalipun bahasa nasionalnya adalah bahasa Maronca, seperti orang Singapura yang menggunakan bahasa Inggris sekalipun bahasa nasionalnya adalah bahasa Melayu. Selain itu, setting Kota Edelstein di bayangan saya mirip dengan Kota Melbourne.  

Monday, August 31, 2015

Cerita di Balik "I Find It in Your Eyes"

Super late post...

Buat saya, buku "I Find It in Your Eyes" akan selalu menjadi tulisan favorit saya. Memang, seiring dengan waktu saya sadar karya pertama saya itu banyak kekurangannya. Tapi nilai sentimentalnya yang tinggi membuat buku itu paling berkesan.

Saya terpikir menulis postingan ini gara-gara email seorang pembaca dan pertanyaan teman saya. Bagaimana cerita awalnya bisa menulis buku ini?

Ide "I Find It in Your Eyes" pertama muncul waktu saya masih SMP. Waktu itu saya sedang nonton film drama Korea berjudul "Save the Last Dance with Me". Entah kenapa saya jadi kepikiran untuk menulis karakter yang buta dan bertemu lagi dengan cowoknya setelah bertahun-tahun.

"Save the Last Dance with Me" menceritakan seorang laki-laki yang ingin menjadi fotografer namun ditentang oleh orang tuanya. Dia akhirnya kabur dan di tengah perjalanan tertabrak mobil. Dalam keadaan terluka dan hilang ingatan, laki-laki itu diselamatkan oleh seorang gadis desa yang hidup bersama ayahnya.

Dari kecil, kebanyakan buku yang saya baca merupakan karya terjemahan. Satu-satunya gaya menulis yang saya tahu hanya menggunakan bahasa baku. Karena tidak yakin bisa membuat percakapan normal dan mengalir ala orang Indonesia, saya akhirnya menulis "I Find It in Your Eyes" dengan setting luar negeri. Karakter Clara dan Michael juga orang bule.

Awalnya sih saya asyik-asyik saja menulis seperti itu. Tapi karena melihat ada teman saya yang diterbitkan bukunya, saya jadi terpikir untuk menerbitkan karya saya juga. Nah, dari situlah saya memutuskan untuk merombak total karakter dan setting yang sudah saya tulis. Kebetulan jadwal kuliah saya tidak begitu padat, saya jadi punya waktu luang untuk menuntaskan kisah Clara dan Michael itu.

Menulis itu susah. Karena sebelumnya saya menulis hanya untuk diri saya sendiri, saya pun kebingungan memulai suatu tulisan yang bisa layak dibaca orang lain. Sehari saya hanya berhasil menulis beberapa kalimat saja. Itu pun diedit berkali-kali. Tapi memulai sesuatu memang pekerjaan paling sulit. Seiring dengan waktu, saya berhasil menemukan gaya tulisan saya sendiri. Walaupun begitu, saya masih tetap belajar untuk menulis dengan lebih baik lagi. From zero to hero. #tsah

Selanjutnya saya ingin membahas beberapa karakter di buku saya. Sejarah munculnya mereka di kepala saya dan apa pendapat saya tentang mereka. Bagian ini mungkin mengandung spoiler bagi yang belum membaca bukunya.

Saya selalu suka cerita yang kompleks, tokohnya banyak, dan hidup mereka bisa saja berhubungan ataupun tidak. Karena alasan inilah, saya tidak pernah bisa menulis cerita pendek. Saya cenderung berpikir terlalu rumit.

"I Find It in Your Eyes" memiliki banyak karakter di dalamnya. Saya akan bahas beberapa yang menurut saya memiliki peran penting di dalam cerita.

Clara Jessica Mulya
Nama panjangnya dulu bukan "Mulya". Saya tidak ingat apa, "Anders" mungkin. Pokoknya nama western. Dialah tokoh utama yang siap "disiksa" sama saya. Karena saya percaya kebahagiaan dan kesuksesan tidak didapat dengan mudah, saya pun merancang cobaan dan kesialan untuk Clara sebelum akhirnya dia mendapat happy ending-nya sendiri. 

Clara adalah orang yang fokus dan taat aturan. Orang yang paling disayangi dan dikaguminya di dunia adalah ayahnya. Kebetulan ibunya meninggal saat melahirkannya. Sifatnya yang menerima nasib, selalu berusaha melakukan hal yang benar demi menyenangkan ayahnya, dan tidak pernah mengeluh adalah cara dia mengikuti nasehat ayahnya yang berpikiran sederhana. Di depan guru-guru dan orang tua lain, dia adalah anak emas. Tapi kalau buat saya, dia terlalu kaku dan serius. Kalau saya ketemu dia, saya bakal bilang, "Enjoy aja. Hidup itu cuma sekali." Walaupun begitu, saya suka tipe orang tenang dan suka membuat rencana seperti Clara. Orangnya punya prinsip dan tidak mudah berubah di tengah masyarakat yang selalu berubah-ubah. Saya selalu percaya padanya dan menganggap dia teman sejati.

Clara digambarkan berambut panjang sebahu. Menurut Michael, wajahnya memiliki kecantikan melankolis dan tidak mencolok. Dia senang mengenakan bandana.

Michael Stanley Ardityo
Di kepala saya, Michael itu adalah tipe cowok populer di sekolah yang suka bercanda. Dia punya banyak teman dari segala kalangan karena sifat easy going-nya. Dia juga suka pamer demi membuktikan kalau dirinya orang terkeren di sekolah. Salah satu caranya adalah menjadi playboy. Dia paling suka menaklukkan cewek-cewek yang dikejar banyak cowok lain. Dia jelas tidak pernah mundur dari tantangan. Pokoknya dia memiliki sifat yang sangat berlawanan dengan penyuka aturan seperti Clara. 
 
Buat saya, sosok Michael itu seperti penyegaran di pemandangan serius sekolah. Di saat semua orang belajar mendengarkan guru, dia pasti bikin ulah dan dimarahi karena nilainya yang jelek. Dia inilah tipe orang yang salah masuk sekolah. Seharusnya dia disekolahkan di tempat yang sesuai dengan minatnya, karena buktinya dia bisa serius mengikuti ekskul "dance" yang disukainya.

Oh, saya menemukan satu artis yang gaya berpakaiannya mirip dengan Michael di buku ini. Namanya Michael juga, dia itu salah satu tokoh di TV show "Glee" yang diperankan oleh Harry Shum Jr. T-shirt dipadukan kemeja kotak-kotak, kemeja dan rompi hitam, atau sekadar kaos dengan jaket olahraga. 

Michael Chang di "Glee"

Vanessa Ediwan
Saya paling suka tokoh ini entah kenapa. Mungkin karena dia punya banyak sifat yang bertolak belakang di dalam dirinya. Dia cantik, kaya, dan dikejar banyak cowok, tapi hatinya hanya untuk Michael seorang. Dia ambisius dan idealis, tapi sangat sentimental dan romantis. Dia sangat menyayangi Clara sebagai sahabat, tapi dia bersikap munafik di depan Clara. Dia haus akan kasih sayang, tapi dia tidak pernah jujur dan selalu memendam segala masalah dalm hatinya sendiri. Dia berani menentang perjodohan yang diatur oleh ibunya, tapi terlalu pengecut dalam menghadapi Michael. Mungkin di kehidupan nyata, saya akan capek berteman dengan orang seperti ini. Intens, penuh drama, conflicted, dan sensitif. Tapi saya suka tokoh rumit seperti ini di dalam buku. Karena itulah, saya bakal menuliskan cerita dengan Vanessa sebagai tokoh utamanya.

Frans Mijaya
Saya menggambarkan dia sebagai menantu yang disukai orang tua bagi anak perempuannya. Pekerja keras, mandiri, perhatian, menghormati orang tua, penyayang, dan sangat bertanggung jawab. Dan dia dokter. Kayaknya zaman dulu orang tua selalu suka anak perempuannya menikah dengan dokter. 

Jujur, saya tidak begitu suka tokoh baik yang sempurna. Kurang seru. Tapi saya berhutang happy ending pada dokter satu ini, jadi mungkin saya akan menulis cerita tentang Frans kapan-kapan.

Olivia dan Janette
Kedua teman Clara ini saya tambahkan belakangan. Awalnya, teman Clara hanya Vanessa saja. Tapi karena saya merasa hidup Clara terlalu sepi, saya menambahkan dua orang ini. 

Lynn Kรถhner
Sama seperti Olivia dan Janette, dia ditambahkan karena saya ingin teman Clara tidak hanya Vanessa saja dan tidak hanya berasa dari sekolah saja. Tapi sejarah tokoh seorang Lynn sebenarnya sudah lama sekali. Dia adalah salah satu tokoh utama di salah satu cerita saya yang lain. Jika suatu saat saya menyelesaikan cerita itu, mungkin kalian akan mengenal Lynn lebih banyak lagi. Singkat kata, saya suka sama si cerewet dan tokoh kurang ajar ini.

Bobby Widjatko
Dia ada sebagai pengingat Michael. Karena Michael bukan tipe orang rumahan yang suka curhat pada keluarganya, saya perlu menciptakan tokoh sahabat yang bisa dipercaya. Bob sangat idealis, terutama dalam membela orang yang lebih lemah. Bob digambarkan sebagai orang yang aktif berorganisasi dan punya banyak kenalan, terutama di bidang organisasi yang menolong anak-anak susah. Dia berani mendidik dan memarahi Michael. Dia juga fleksibel mengikuti pergaulan Michael walaupun dia tidak terpengaruh dengan gaya hidup hedon di sekitarnya. Di mata saya, Bob ini orang yang terlahir menjadi pemimpin, pelindung, dan pendidik.

Eddie Mulya, ayah Clara
Beberapa teman saya yang sudah membaca karya saya yang lain bilang kalau saya penulis yang kejam. Saya tidak pernah menulis buku tanpa adegan kematian. Pasti ada saja tokoh yang saya "bunuh". Memang saya selalu merencanakan begitu. Kematian adalah akhir yang paling mutlak dan menyedihkan. Mungkin tidak sesedih kematian tokoh yang difitnah tanpa bisa membalas sampai akhir seperti Gatsby, tokoh fiksi yang ditulis F. Scott Fitzgerald. Tapi saya rasa kematian dalam novel itu perlu biar nuansa sedihnya lebih nendang. :P Jadi, fungsi ayah Clara ini untuk dibunuh saja, Sab?

Seperti yang saya tulis di awal, saya ini orang yang sentimental. Penulis yang sentimental. I can't help liking all my characters. Walaupun mereka semua tokoh fiktif, mereka sudah saya anggap sebagai teman yang menemani saya menulis selama dua tahun saya mengarang kisah "I Find It in Your Eyes."

Thursday, March 19, 2015

Silent Melody

Akhirnya saya bisa menulis blog ini juga. Sudah lama dibiarkan terbengkalai, kasihan juga. :(

Sebenarnya saya seharusnya sudah mengumumkan hal ini sejak dua minggu lalu. Novel saya yang berjudul Silent Melody akan diterbitkan di akhir bulan ini. Bukunya bahkan sudah bisa pre-order di toko buku online. Tapi saya sedang sibuk sekali beberapa minggu ini, sampai melupakannya.

Jadi, inilah cover-nya. 




Kelebihan Lyra selain sifat cerianya adalah keberuntungan yang tiada habisnya. Hidupnya bahagia, keluarganya sangat harmonis, dan bahkan cowok yang disukainya membalas perasaannya. 

Josh, si jenius yang suka menyendiri, sejak awal hanya ingin menjadi sahabat Lyra saja. Ia tidak bisa berharap lebih karena ia punya banyak rahasia yang harus disembunyikan.  

Tapi di saat Lyra kehilangan segalanya, hanya Josh saja yang masih tetap setia berada di sampingnya. Persahabatannya dengan Josh berubah menjadi perasaan yang lebih dalam walaupun masih banyak kebohongan yang belum terungkap. 

Dan saat Lyra mengetahui semuanya, ketakutan Josh benar-benar terjadi. Lyra berbalik membencinya dan ingin membalas dendam. Gadis itu bahkan meninggalkannya. 

Dalam keterpurukannya, Josh masih tetap berharap suatu hari Lyra mau memaafkannya. Tapi bertahun-tahun ia menunggu, kesempatan itu tak kunjung datang. 

Saya suka cover-nya karena menurut saya cocok dengan ceritanya yang agak gelap dan kelam. Yah, saya tidak akan kasih tahu ceritanya. Yang pasti bagus. Ya, iyalah. Saya yang nulis gitu. 

Seperti biasa, beli novel ini. Hahaha... Semoga novel ini bisa menghibur dan syukur-syukur bisa bikin nangis. Soalnya saya memang sukanya nulis cerita yang bisa bikin saya sendiri nangis. Memang aneh kau, Sab...

TRIVIA 

1.   Silent Melody merupakan buku kedua dari seri Years.
2.   Josh si tokoh utama sempat muncul di buku I Find It in Your Eyes sebagai salah satu teman Clara. Selain dia, hanya Mario saja yang juga ada di buku sebelumnya.
3.   Buku ini selesai ditulis dalam setahun, lebih cepat dua kali lipat daripada penulisan buku pertama seri Years.
4.   Salah satu adegan di buku ini yang berhubungan dengan gas bocor terinspirasi dari film serian Hongkong berjudul Flaming Brothers.
5.   Partitur lagu yang terdapat di halaman terakhir merupakan lagu yang saya ciptakan sendiri. Saya cantumkan di buku hanya sebagai bonus yang mendukung jalan cerita.

Thursday, November 27, 2014

I Find It in Your Eyes

Blog ini tadinya dibuat untuk cerita fantasi yang saya buat, seri Achlodia. Bukunya belum pernah diterbitkan walaupun sudah nangkring di meja penerbit sejak dua tahun yang lalu. Sudah diterima juga oleh penerbit tersebut, tapi belum ada realisasinya. Hehe... Malah, cerita saya yang lain diterbitkan duluan.

I Find It in Your Eyes, begitulah saya memilih judulnya. Saya tidak tahu kenapa saya pilih judul itu karena itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu sewaktu saya masih SMP. Saya cuma tahu kalau judul novel ini harus berhubungan dengan mata.

Tidak perlu berlama-lama lagi, inilah cover-nya.


Michael punya segalanya: wajah tampan, pesona, dan kharisma yang membuatnya disukai banyak perempuan. Dan ia memperlakukan perempuan-perempuan itu sesukanya.

Di dalam hidupnya, Clara selalu mengutamakan sekolah dan ayahnya di atas segalanya.  Tapi satu perlakuan memalukan dari Michael membuatnya memusuhi cowok itu dan ia berusaha menasehati sahabatnya untuk tidak mencintai cowok itu.

Sebuah taruhan dari teman-temannya membuat Michael harus memenangkan hati Clara. Hanya saja ia tidak menyangka kalau cinta akan tumbuh di hatinya. Dan kebohongan Michael itu tidak hanya membuat Clara kehilangan sahabatnya, tapi juga cita-citanya. Jadi dengan terpaksa, Clara meninggalkan cowok itu. 

Delapan tahun kemudian, mereka bertemu kembali dalam keadaan yang sudah jauh berbeda. Tapi cinta itu masih tersimpan di dalam hati Michael. Dan kali ini, ia tidak akan melepaskan Clara lagi sekalipun itu berarti ia harus mengaku sebagai orang lain hanya untuk bisa bersama gadis itu.   


Eaaaaa... Saya nggak nyangka kalau cover-nya bisa sesuai dengan bayangan saya walaupun tidak sepenuhnya. Saya selalu beranggapan kalau novel ini harus berwarna salem muda yang kebetulan terjadi di sepertiga atas cover.

Jadi, intinya beli novel ini. Hahaha... Saya berharap bisa dibaca dan menghibur :)

TRIVIA

1.   I Find It in Your Eyes adalah buku pertama dari seri Years. Kesamaan semua cerita yang saya tulis di seri Years itu adalah pertemuan kembali setelah bertahun-tahun terpisah.

2.   Ide cerita ini sudah ada di otak saya sejak tahun 2003, ditulis pada tahun 2009, dan selesai tahun 2011.

3.   Buku ini adalah karya pertama yang saya selesaikan.

4.   Jack yang dimaksud Michael di bagian akhir adalah Jack Bauer dari seri film 24.

5.   Awalnya, setting cerita buku ini ada di luar negeri. Nama tokoh-tokohnya juga sangat western. Tapi karena saya cinta Indonesia, jadi saya ubah semuanya.